Tri Sumono Manusia 4 Kuadran

Mungkin sebagian besar dari anda pernah mendengar Robert T. Kiyosaki. Salah satu buku popular karangan beliau adalah The Cashflow Kuadra., Menurut Kiyosaki manusia dibagi ke dalam empat kuadran. Di Kuadran kiri ada employee (pegawai) dan self-employed (pekerja lepas). Sementara di kuadran kanan, ada business owner (pemilik usaha) dan investor (pemodal).

Ia menyarankan agar kita selalu berusaha berpindah kuadran, dari kiri kekanan. Banyak pula trainer entrepreneur yang ikut menyarankan hal ini pada orang yang ingin hidupnya berhasil secara finansial.

Mungkin sekilas akan mustahil ada orang yang bisa berada dikedua quadran kiri dan kanan secara bersamaan, akan tetapi kemustahilan itu tidak terjadi karena ternyata ada orang yang bisa hidup di empat kuadran dan semua berhasil, lelaki itu bernama Tri Sumono.

Tri Sumono awalnya berpropesi sebagai tukang sapu kemudian diangkat menjadi office boy di sebuah took terbesar di Jakarta, saat itu ia berpenghasiln Rp.250.000,- per bulan. Dengan bekal penghasilan perbulan yang hanya Rp.250.000,- digunakan untuk membayar kontrak rumah. Wajar bila anak pertamanya divonis anemia gizi ketika berusia 3 tahun. Namun, siapa sangka vonis inilah yang memacu Tri Sumono memutar otak untuk menambah penghasilan.

Tri Sumono masih aktif employee di bagian gudang Gramedia. Pagi ia berangkat bekerja sebagaimana employee yang lain. Namun mulai pukul 18.00  hingga 23.00  ia bertindak sebagai direktur di perusahaan. CV Tiga Jaya. Ada belasan bisnis yang ia tangani, dari rumah kontrakan, property, minuman kesehatan, grosir hingga supplier ribuan computer ke berbagai instansi. Orderanya dari puluhan juta hingga miliaran untuk masing-masing bisnisnya. Ternyata, lelaki asal Gunung Kidul ini juga business owner yang hebat.

Tri Sumono yang sekarang berusia 44 tahun juga menjadi investor pada bisnis pertanian dan peternakan burung yang tersebar di beberapa provinsi, investasi dibidang pertanian dilakukanya karena Tri Sumono tidak ingin melupakan asal muasalnya sebagai pertani di kampong halamanya. Sementara investasi dipeternakan burung karena memelihara burung adalah hobi dan kegemaranya. Sebagai investor, iapun meraup rupiah berlimpah. “Agar tak dimarahi istri, hobi harus menghasilkan” katanya.

Manusia 4 kuadran, itu memang julukan yang pas buat Mas Tri Sumono. Pada saat orang lain sibuk di 1 kuadran, Tri Sumono malahan bisa dengan enaknya menjalani posisi 4 kuadran sekaligus. Ide dan kiat menjalani posisi 4 kuadran yang selama ini diberkan pada pelatihan-pelatiihan kewirahusahaan dimana beliau sering diundang untuk pembicara utamanya.

Tiada desah nafas yang tak terkisah, begitu pula untuk segala pencapaianya yang telah diraihnya. Masa lalunya yang penuh dengan kesedihan, kesulitan dan berbagai kepahitan hidup. Namun kini, semua terbalas dengan kenikmatan dan kebahagiaan, segala kisah yang pernah ia ukir dalam hidupnya, segala pengalaman menyedihkan yang pernah dirasakanya, dan masa depan dengan berbagai pengharapan adalah yang ingin dibaginya. Ya, rasa syukur ingi ia salurkan dengan berbagai kenikmatan kepada orang lain, terutama penalaman. Harapanya tentu sebagian orang tidak berputus asa dan jatuh pada jalan mengenaskan. Ia berbagi semata-mata demi jalan menuju kesuksesan.

Pekerja, pemilik bisnis, investor, dan motivator merupakan profesi yang disandangnya kini setelah menyandan profesi sebagai tukang bangunan, tukang sapu, office boy, dan pedagang kaki lima. Ia berbekal ketenangan, ketekunan, kejujuran, kegigihan, dan sebait motto hidup “Ndak apa jadi orang bodoh, yang penting bisa bayar orang pintar”. Ya begitulah ia, khas dengan pemikiran sederhananya namun bermakna luar biasa. Ya itulah dia, sang putra Gunung Kidul Yogyakarta yang bernama Tri Sumono

Share

Wirtoyo Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *